Tuesday, November 3, 2009

m e r e k a m e r e k a

Tiba-tiba terbersit sekelumit pemikiran dan teraduk rata dengan ingatan tentang mereka-mereka,

yang datang. . .

yang pergi. . .

yang tinggal. . .

yang menghilang. . .

Mereka yang datang, memberi sejumput kesan, meninggalkan jejak. Lalu ada yang pergi, ada yang tetap tinggal, ada juga yang menghilang. Cuma jejaknya yang tetap utuh.

Mereka yang pergi, sesekali membuat saya senam otak, dengan sepiring kisah yang mereka tinggalkan.

Mereka yang tinggal, terus menjejak, meninggalkan kesan dalam, tak mungkin terlupa.

Mereka yang menghilang, pernah menjejak, cukup dalam. Lalu hilang, seolah pergi, seakan sudah tiada. Padahal masih ada. Saya tau.

Well, saya punya sedikit cerita tentang mereka yang menghilang ini. Ada beberapa orang, yang entah mereka sadari atau tidak, tidak pernah membiarkan saya melupakan mereka. Beberapa orang ini, dua orang tepatnya, menapak di hari-hari saya, membuat saya kembali mengingat, mulai mencari, dan pelan-pelan menyadari mungkin saya memang merindukan kehadiran mereka.

Beruangkutub, menghilang semenjak ia bertunangan. Saya paham, saya mengerti, ia ingin menjaga apa yang dimilikinya sekarang, tak ingin masa lalu mengusik kebahagiaannya kini. Saya pun tak bermasalah. Beberapa hari yang lalu, tiga hari berturut-turut saya memimpikannya. Hari pertama, ia sakit, dalam mimpi saya. Hari kedua, masih dalam mimpi saya, ia menikah. Hari ketiga, saya mimpi, dia hilang di pegunungan. Sejak saya mengenal dia lebih dari 8 tahun lalu, sudah berkali-berkali terjadi, mimpi seperti memiliki makna sesuatu. Ragu, tapi saya tidak tenang. Huufftt..saya tarik nafas panjang, saya kirim pesan pendek, dini hari itu. Di hari ketiga saya memimpikannya, dia membalas pesan pendek saya. Dia sakit. Tidak parah, tapi dia sakit. Mimpi saya, resah saya, mewujud dalam pesan pendek itu.

'Caya, menghilang sejak kontak terakhir kali, hari Rabu naas ketika saya kecelakaan itu, tanggal 28 Oktober 2009, ketika Treforia akan manggung di Bober Cafe Bandung. Saya menyadari ketiadaannya, saya bertanya-tanya, tapi tidak mencari. Sampai dua hari yang lalu, saya menyadari, ia mungkin berusaha menepati janji terakhirnya, untuk menghilang. Ada terbersit rasa aneh yang tidak bisa saya jabarkan, tapi saya tetap tidak mencari. Dua hari yang lalu, pertama kali saya memimpikannya lagi, sejak berbulan-bulan ini. Dua hari berturut-turut. Mimpi yang nyata, sosoknya, wajahnya, suaranya, bahkan aromanya. Jelas berkelebat di benak saya sepanjang hari. Malam ini, saya mendapati dia masih ada di sekitar saya. Dia masih ada. Dia cuma pura-pura menghilang.

Mereka menghilang, tapi tidak membiarkan saya lupa. Mungkin, tanpa saya sadari, alam bawah sadar saya memang tidak mengizinkan saya lupa. Saya punya ingatan yang kuat, apalagi dalam urusan hati, seringkali kepingan sepele yang terjadi terekam kuat di ingatan. Termasuk keberadaan mereka. Memang sudah harus seperti itu. Hati saya kan memang bukan bola lampu.

Mereka yang tetap tinggal. Dia yang tetap tinggal sekarang ini, tepatnya. Saya harap tidak pergi, tidak menghilang. Tetap tinggal, tetap disini. jangan pergi, ya a...


Love,

del_gadis

Sunday, November 1, 2009

Sebuah Kisah Tentang TABRAK LARI


Kata engkong Rangga, Tabrak lari itu lebih kejam daripada mencontek. Aaarrggh…apa seeeh kong??


Yang gw rasain? Sakit benturannya dirasakan kemudian, yang bikin gw nangis di TKP adalah sakit hati, karena si pelaku meluncur gitu aja di depan mata gw yang lagi meringis kesakitan. Setan emang tuh orang! Kagak punya hati! Innova sialaaaaannn!!!!! >_<

Tapi apa daya? Gw kejar juga ngga sanggup…mw nyatet plat nomernya? Boro-boro kepikiran, yang ada pengen cepet-cepet nyampe rumah, then call kuya to tell everythings. Mungkin ngga guna juga ya nelepon kuya, ngga juga jadi menyelesaikan permasalahan tabrak lari itu. Tapi at least, nyeri di rusuk gw berkurang setelah denger suaranya. Kekhawatirannya, nada panik yang berusaha keras disembunyikannya, kata-kata yang memanjakan, menenangkan gw. It really works to cure the pain.



Jadi, sore itu pas pulang kerja, bubat dan sekitarnya ujan gedeeeeee bgt. Itu juga gw tau dari status temen-temen di facebook, yang waktu itu sedang ada di sekitar bubat. Mungkin bandung yang kala itu diguyur ujan lebat. Gw sendiri terjebak di kantor. Ada kali setengah jam nunggu ujan reda di lobby kantor. Pas ujan reda dikit, gw naek ke lantai 2, pamit pulang sama kuya. Dia berpesan-pesan untuk ngga ngebut, pake jas ujan, ati-ati dijalan...bla..bla..bla..


Gw ngga buru-buru juga sore itu, niatnya pengen menikmati ujan. Sengaja gw jalan pelan-pelan. Nah, lalu apa salah gw? Kok tiba-tiba di sruduk Innova sialan itu? Jalan Asia-Arika lumayan padat merayap, karena emang lagi jam-nya pulang kerja, dan ujan pula. Dari jauh lampu lalin udah keliatan jelas berpendar merah. Gw merayap pelan di belakang sebuah truk tertutup pengangkut barang. Itu ukuran sedang kali ya untuk jenis truk. Lebih gede banget dari pick up tapi lebih kecil banget dari tronton! Hahaha... Ya gitu, pas banget di depan gedung Bank Mandiri, gw di tabrak si Innova itu dari belakang, dan kedorong sampe akhirnya nabrak truk itu. Secara itu truk gedeee banget, ya ngga ngaruh juga buat dia. Yang ada motor gw depannya ringsek. Plus dada gw kepentok stang motor, dan pala gw kejedot pula! Ugh..>_<


Masih dalam keadaan kaget, dan shock, gw pelan-pelan ngdorong motor ke pinggir dulu. Yang kerasa saat itu adalah, pala gw sakit karena kejedot, gemeteran, lemes, dan ulu hati gw agak nyeri. Pas gw lagi ngecek motor, dan menenangkan diri bentar, lampu berubah ijo, dan meluncur-lah Innova hitam sialan itu dengan nikmatnya. Ninggalin gw gitu aja! AN*IIIIIII**!!!! SETAAAAANNNN!!!!!!!!! >=(

Makin shock lagi menyadari kenyataan kalo gw baru aja jadi korban tabrak lari. Bingung, gw celingak celinguk, mencari saksi. Ngga jauh dari gw, ada pos satpam berisi satpam-satpam (ya iyalaaaahh…masa isinya tukang cendol???) dan beberapa orang yang lagi berlindung dari ujan. Mereka semuanya ngeliatin gw, memandang iba, tapi yaudah segitunya aja, ngga ada yang berniat lebih untuk bantuin gw. Edan, manusia-manusia sudah bertumbuh menjadi makhluk individual sekarang ini. Kadang ketika ada rasa pengen bantuin orang, suka kepikiran tentang hal-hal ini. Saya susah juga ngga ada yang bantuin, lalu apa gunanya saya membantu orang? Kalau ngga ada simbiosis mutualisme didalamnya? Kalau hukum timbal balik ngga lagi berlaku?


Dengan kepala berdenyut-denyut, gw nekat pulang sendiri. Dalam keadaan ujan makin deres. Gw pelan-pelan bawa motor menuju pulang. Nangis kejer sepanjang jalan. Sebagian karena kesel. Ngga salah apa-apa, tau-tau di sruduk aja, motor w masih baruuuuu....ini udah ringsek aja! Hiks...sediiiihhh....=’(...kesel ama Innova ngga bertanggung jawab itu, kesel ama orang-orang yang bisanya cuma melongo ngeliatin gw, dan terlebih karena nyeri di rusuk dan ulu hati gw makin tajam.

Baru kali ini gw ngerasain yang namanya perjalanan pulang panjaaaaaaaannng banget! Baru kerasa kalo rumah gw tuh jauuuuhhh banget!!! Jangan tanya gimana leganya, bahagianya gw pas liat rumah di hadapan gw. Nyampe juga akhirnya. Rumah ini, sejelek apapun, sekuno apapun bentuknya, this is my home. Tempat gw berlindung, berteduh.


Adi, adek gw yang bukain pintu pas gw dateng. Mamah & bapa lagi ngga ada. Untunglah, ngga kebayang gimana paniknya mereka kalo liat gw pulang dalam keadaan kayak gitu. Adek-adek gw aja bingung gimana ngadepin gw. Haha…kalo di inget2 lucu juga. Mereka bikinin gw teh anget, ngusap-ngusapin gw. Nyampe rumah, gw langsung nelepon kuya. Dan nangis gw makin kejer, menumpahkan segala kesel, sakit, ketakutan, kaget, semuanya. Ngga sampe lima menit, tangis gw reda. Baru sekarang lebih fokus ama rasa sakitnya. Besoknya, sakit di rusuk dan ulu hati gw ngga juga mereda, akhirnya gw dibawa ke RS Immanuel untuk di rontgen. My mom & Kuya nemenin gw disana nyaris sepanjang hari. Ternyata ada memar di limpa gw gara-gara benturan itu. Jadi gw kudu istirahat untuk pemulihan.


Dan pemulihan itu berlangsung sampai hari ini sodara-sodara. Ini udah hari ke...hmmm....keempat gw ngga masuk kerja. Kangen WS, kangen call master, kangen cwc, kangen lauk-lauk gila ituuuuhh!! Hahaha... selasa baru gw bisa mulai kerja lagi! He...


Well, tapi siang ini janji mau ketemu kuya. Dia menjanjikan sesuatu yang kudu gw tagih. Hehehe...c u soon darl! ^_^


mari kita introspeksi diri saja sebaiknya. daripada merutuk diri, buang-buang energi

mungkin saya kurang hati-hati

mungkin saya kurang berdoa

lain kali, lindungi saya Ya Allah. . . . .


Love,

del_gadis

Tuesday, October 27, 2009

Udah ah. . .kelamaan. . .

hap. . .hap. . .hap. . .
it's time to moving on
c'mon del. . . move on. . .move on. . .move on. . .


Nyaris 9 bulan bekerja disini, wara wiri di Bubat 91. Duuuhh. . .kelamaan ngga sih? Lama disini semakin stuck. Ayo ah, kita cabcus kawan! Mencari persinggahan yang lebih baik, mengadu peruntungan lain. Ayo ah. . . .

This isn't the right place to settle down


Love,

del_gadis

d e s a c i m e n y a n . . .18 Oktober 2009







Cimenyan...Cimenyan...Cimenyan...
Eits, jangan ketawa dulu. Ini nama tempat, iya gw tau...namanya lucu ya?!

Iyaaaa...bener! cimenyan yang itu...IYAAAA!!! cimenyan yang rumahnya si PRAMESWARA, tokoh utama di novel "Always LAILA". Yup...gw kesana! gw ADA DISANA!!! Hiaaaa.... dan Laila bener, tempat itu luar biasa indah, luar biasa menyenangkan. Hmm...ngga terlalu indah sih sebenernya, sayang banget karena bagian desa cimenyan tempat gw menghabiskan sore ini, dikelilingi bukit-bukit tandus nan gersang. padahal kalo aja itu bukit2 ngga gersang, dengan udara sesejuk itu, it gonna be such a perfect place. Well, bisa jadi faktor bareng-siapa-lo-kesana juga yang membuat desa cimenyan makin menyenangkan...^^v

Eniwei, gw sangat menikmati perjalanan gw sore itu. Dan gimana ceritanya gw bisa tiba-tiba nyampe disana? Ini dia ceritanya sodara-sodara.

Ngga ada rencana apa-apa hari itu. Sejak awal, bahkan sampai akhirnya gw nyampe disana, sama sekali ngga ada rencana untuk jalan-jalan menjelajah kayak gini. At least dari pihak gw, ngga ada planning apa-apa.
Hari itu gw masuk kerja seperti biasa, ngobrol asik bareng pelanggan Tsel 8,5 jam seperti biasa. Siang-siang gw nyusun rencana untuk minta anter kuya ke Jobfair di Sabuga, dan sebelumnya pengen mampir dulu ke RS Muhammadiyah untuk nengok nenek gw yang lagi dirawat disana. Abis itu sih gw pengennya paling cari makan kemana gitu, terusnya ya gw pulang, karena si kuya kan masuk shift malem, & he needs some sleep sebelom bgadang.
Jadilah sore itu dia udah bertengger manis di depan kantor, nungguin gw pulang kerja. Pas gw ceritain rencana gw, dia cuma ngangguk-ngangguk aja, pertanda ngga keberatan dengan rencana gw, which is mean, dia ngga ada planning apa-apa sore itu.

Dan berangkatlah kami berdua. Pos pertama adalah RS Muhammadiyah. Wara wiri bentar disana, basa basi ketemu ama Oci Fat (adik nyokap gw), ada uwa neneng (kakak nyokap), ada ghita (Sepupu gw), dan nenek tentunya.
Eh, intermezzo nih ya...gw seneng lho sore itu, dan bersyukur ngajak kuya ke RS. Setelah beberapa kali ketemu dia, nenek gw akhirnya menyadari bahwa yang dateng ini bukan hanya "temennya gugi"...tapi juga "temennya adis.." hihihi...;p Dan gw rada amazing waktu si kuya pamit pulang, dan sun tangan ama nenek, kepalanya dia d usap-usap ama nenek. ahahahahha...>=D mudah-mudahan itu suatu pertanda a! wkwkwkw...(*Ngarep* MODE ON)

Berangkaaaaattt lagi kami ke pos dua. Yang ada di kepala gw saat itu, perhentian selanjutnya adalah Job Fair di Sabuga. Dijalan, si kecap hitam manis ini mengeluh, "Lapar be..."
ck..ck..poor kuya! Tapi gw bingung, jadi ini kita mau cari makan atau ke Sabuga sih a? Secara ya saat itu udah jam 4an, dan JobFair ditutup jam 5. Udah mepet banget kan?
gw akhirnya cuma bilang ama dia, gw pengen makan buntut goreng yang di Balubur. Maksud gw adalah, "Kita mampir bentar ke JobFair ya a, abis itu makan deh di Balubur.."
Lokasinya deketan, jalurnya pun nggak ribet. So, efektivitas waktu & tenaga terjamin..hahaaaaaiii..^^

SuperKecap ini ngga ngerespon ide gw. Yang ada dia malah muter muter ngga jelas juntrungannya sambil ngobrolin ini itu. Gw ngga tau apa yang dia cari, makanan apa yang dia mau, pokonya yang jelas ngobrol ngalor ngidul sambil keliling-keliling deh kita.
Gw masih ngga ngerti apa rencananya si kuya. Yang gw sadari akhirnya adalah, ngga jadi deh mampir ke JobFair karena sekarang udah jam setengah 5, sementara ngga ada tanda-tanda si kuya ini bakalan meluncur ke arah Sabuga. Gw ngga keberatan sebenernya, toh memang rencana gw ke Sabuga itu cuma karena gw penasaran aja.
Akhirnya gw mulai menebak-nebak pos perhentian selanjutnya. Bertanya-tanya, ini gw mau diculik kemana yaaaa...?

muter....muter....keliling....keliliiiiing.....ngga jelas...
"Kita mau kemana sih a?"
dan jawabannya kayak udah di template, alias udah pasti,
"Ngga tau be..."

Yang jelas, kita berdua udah sama-sama lapar sekarang. Semakin blur ketika si kuya membawa gw membelah jalan suci. dan meluncur terus menjauhi pusat kota. gw masih aja nekat nanya, "mau kemana a?" walopun gw udah tau pasti jawabannya, "ngga tau be.." itu.
Udah nyaris nyampe terminal cicaheum, ketika si kuya nanya,

"Be, udah pernah ke saung udjo blm?" sambil nunjuk plang di kiri jalan berjudul "Saung Angklung Mang Udjo"
gw jawab, "Belum a, kenapa gitu?"

Tau-tau aa ngambil arah kiri, dan berbelok ke jalan kecil itu.

Ruas jalannya kecil, mobil-mobil dari dua arah melaju perlahan. Jalanan itu rameeee bener, kanan kirinya penuh toko-toko kecil, pemukiman penduduk, bahkan ada satu gedung kampus gitu disana. Tipikal pusat aktivitas daerah suburban gitu deh. Gw makin penasaran dan mulai curiga, jangan-jangan si kuya ini emang punya rencana smthing gitu.

"ini mau kemana a?" tanya gw lagi
"ngga tau be..." jawabnya LAGI...>_<

Semakin melaju ke atas, barulah gw ngeh, kalo inilah yang disebut-sebut orang sebagai daerah padasuka. terus...teruuusss....teruuuuuussss ke atas... Suhu udara pelan-pelan berubah. Hawa kota Bandung yang panas menyengat tertinggal januh dibawah. Sekarang gw dan si kuya diterpa angin yang bertiup lebih kenceng, udara juga lebih sejuk, walopun matahari masih sangar bersinar diatas sana. halaaahh...;p Pemandangan juga berubah, rumah-rumah penduduk semakin sedikit, dan mulai terlihat banyak bukit-bukit di kanan kiri jalan. Tanda tanya di kepala gw makin besar "kemana sih a?" sekarang si kuya ngakak dulu sebelum menjawab, "ngga tauuuu...bebeeee..."

Gw ngga yakin soalnya kalo dia bener-bener ngga punya rencana apa-apa, dan cuma kebetulan aja ngajak gw kesini. Tapi dia bersikap meyakinkan bahwa dia ngga merencanakan apa-apa, ketika dengan santainya dia berkata,

"Be, kayaknya di atas sana ada tempat apaaaaa gitu ya be?"
"Ngga tau deh a...menurut kamu?"
"Kayaknya ada tempat wisata atau tempat apa gitu.."

Dan kami terus melaju, jalanan makin sempit, menanjak, dan berkelok. Udara sore khas pegunungan semakin nyata terasa. Tiba-tiba, gw heboh pas ada papan jalan bertuliskan, "SELAMAT DATANG DI DESA CIMENYAN"...gw langsung riweuh, dan nyadar kalo ini adalah cimenyan yang dimaksud dalam novel kesukaan gw "Always Laila". Gw jerit-jerit bahagia karena akhirnya bisa menjejak di suatu tempat, dimana tokoh-tokoh dari novel favorit gw pernah hidup dan mewujud disini.

"Aa...ini cimenyan a, cimenyaaaan, yang itu aa..yang di novel Always Laila ituuu...",gw gemes karena dia ngga nyadar, atau pura-pura ngga nyadar.
Kuyangora senyam senyum aja liat tingkah gw, sambil bilang, "Iya gitu? yang mana ya?"

Gw inget banget, aa pernah baca novel itu. Karena dulu, pas gw cerita tentang salah satu novel kesukaan gw, dan gw nunjukkin novel itu, dia langsung pinjem dan baca. Makanya gw curiga, jangan-jangan ini akal-akalannya dia aja pengen ngasih surprise bwt gw, karena dia tau gw emang suka banget itu novel. Tapi ngga tau juga ya, bisa jadi memang bener-bener ketidaksengajaan, akhirnya gw bisa nyampe sini. It remains a mistery...still...until now.

Well, itu dia uraian panjang lebar kanan kiri gw untuk akhirnya nyampe ke Desa Cimenyan ini. Kuyangora memarkir motor di lapangan luas yang dijadiin tempat parkir disana. Terus kita berdua jalan kaki milih-milih saung yang tersebar di sepanjang salah satu sisi jalan. Oh iya, semakin ke atas, ruas jalannya semakin sempiiiitt...pit...pit...ketika rumah terakhir terlewati, ruas jalan itu tinggal cukup untuk satu mobil aja, itupun jalannya kudu extra ati-ati. Di kanan kiri jalan adalah lereng-lereng bukit yang lumayan curam, belum lagi track yang nanjak banget nan berkelok-kelok. Aa bilang, kalo skill bawa motornya minim, alias beginner rider (kayak gw maksudnya) ngga akan bisa kesini. Bahaya, dan track-nya juga ngga gampang. Tersirat maksudnya si kuya adalah "Cuma yang jago kayak aku be, yang bisa..." Huuuu...dasar narsis!!! Emang iya sih, kudu expert bawa motornya kalo mau selamat melewati jalan ini. yaaa...soalnya bakalan "lumayan" sakit kalo nyuksruk ke lereng-lereng itu, syukur-syukur kalo cuma patah-patah tulang doang...Hihihi...;0
Gw juga menangkap nada peringatan dibalik kata-kata si kuya, yang kalo di terjemahin jadinya gini, "jangan berani-berani autis-autisan dateng kesini sendirian!!!" Hhehehe...kebaca ya a pikiran aku? Secara tempatnya nyamaaaann banget buat merenung kalo lagi galau. Heeee...;p
Kita milih saung yang lumayan luas, ngadep langsung ke lereng bukit. Dan berhubung kelaparan, kita memilih saung yang nyedian makanan berat, nasi maksudnya. Jangan salah paham dulu, kita ngga makan batu kok! xixixixi...;p Ada papan menggoda berjudul "Nasi Goreng" dan "Pisang Keju" di saung itu, saung yang akhirnya kita pilih buat bertengger. Sementara saung-saung yang laen rata-rata cuma nyedian camilan doang, yang ini pilihan makanannya lumayan oke.
Ada dua pasangan di saung itu. sepasang cowo dan cowo (??#^@&^@!!@???!!), dan sepasang muda mudi labil usia smp atau sma kelas satu gitu deh. ck..ck..bocah...
Gw ama aa sih cuek bebek aja ngobrol ini itu ngga ada abis-abisnya. Sayang banget, hape gw norak pas lagi penting gini malah abis batere, jadinya ngga bisa banyak jeprat jepret (ini menguatkan tekad gw untuk beli Digicam secepatnya, menimbang betapa seringnya gw & aa jalan-jalan, dan betapa narsisnya kita berdua! wkwkwk...;p)
Dan tibalah nasi goreng klasik itu dihadapan gw. Kalo liat bentuknya, dijamin nggak akan pada nyangka deh rasanya bakalan seenak ini. Aslinya ngga pake embel-embel apa-apa, just nasi goreng, pake kerupuk, tomat plus timun. That's it! Tapi rasanya mantap. Terbawa suasana juga kali yaaa, plus kelaparan sangat! hahaha... Minumnya teh anget, tanpa gula. Dan gw yakin itu teh bukan pake teh celup, tapinya diseduh. Soalnya rasanya beda (*Sotoy* MODE ON...Yah intinya klasik punya deh! Heheh.. Abis makan, gw langsung menyantap pisan keju dengan taburan brown sugar diatasnya. Wuidiiiiihh...oke punya cuy!! Hahaha....>=DD

Aaarrrghh..sebel, datengnya kesorean. Jadi harus cepet-cepet pulang, karena udah menjelang maghrib, dan kita berdua ngga siap dengan cuaca dinginnya. Padahal belom puas menikmati angin segar cuaca pegunungan sore hari, belom puas narsis foto-foto, udah harus pulang..>_< style="color: rgb(255, 102, 102);" size="4">Gw seneng karena menemukan tempat baru yang cozy dan oke untuk melarikan diri dari penat rutinitas dan hiruk pikuk kota..

Makasih a...untuk acara jalan-jalan sore ini
Makasih a...untuk kejutan sore ini
Makasih a...telah memberiku tawa lepas sore ini

Love,

Del_gadis

Wednesday, September 2, 2009

At the present time

Saat ini, sekarang ini, saya terlalu banyak buang-buang waktu. Rasanya begitu. Banyak waktu yang tidak saya manfaatkan. Banyak pemandangan yang tidak saya ceritakan, terlewat untuk diabadikan. Saya menyesal. Siapa yang tau waktu saya masih panjang atau tidak? Mulai sekarang, ingin saya belajar untuk memanfaatkan waktu, dan menjadi lebih baik. Banyak target dan mimpi yang ingin saya kejar.

Saya akan mulai dari dunia saya yang paling saya cintai. Menulis. Saya akan mengembangkan pola menulis ini dan membaginya menjadi 3. Blog pribadi, tentang curhat-curhat dan keseharian saya. Kedua, Blog fiksi tentang tokoh-tokoh khayalan saya. Ketiga, blog yang berisi hal-hal umum, kehidupan sosial, dan apa yang sedang booming. Mudah-mudahan dengan ini saya bisa mulai mengembangkan pola dan gaya penulisan saya.

Saya mau bilang sama orang-orang, saya menulis apa yang mau saya tulis, dengan cara yang paling nyaman untuk saya. Kalau sekarang gaya bahasa saya berbeda, ya inilah yang membuat saya nyaman sekarang ini